Tetap Berkelas Meski Berasal Dari Kaos Bekas

Kaos-2

 

Dalam kesempatan tersebut, Adhisasmita yang karyanya pernah mewakili Indonesia di Caraoussel du Luvre, Paris tahun 2004 untuk katagori aksesori, memberikan materi yang cukup sederhana yakni membuat aksesori Twist Circle yang bisa digunakan untuk bross, gantungan tas, bando dan lain sebagainya seperti yang ada di buku “Kreasi Redesain Kaos untuk Fashion & Aksesori” (Indonesia Tera). Bahannya cukup dengan 3 lembar potongan kaos bekas yang dipotong memanjang, kancing, jarum, benang, renda. Caranya pun cukup mudah yakni 3 potongan tersebut kemudian dikepang dan dikreasikan sesuai selera para peserta dengan bahan yang ada.  

“Memang semua kreasi kaos dalam buku ini saya buat dengan tema-tema sederhana namun tetap exclusive. Karena itu rata-rata yang paling diminati para pelanggan saya sekarang. Bahkan semua kreasi bisa dijahit cukup dengan jahitan tangan saja. Jadi jangan khawatir soal keterbatasan alat. Yang dibutuhkan hanya kemauan dan kreativitas saja,” ungkapnya sembari memperlihatkan beberapa kreasi fashion & aksesori yang ada di buku. Dalam kesempatan tersebut, ia juga blak-blakan bagaimana ia memulai ketrampilan ini menjadi usaha utama yang digelutinya kini. Bahkan, pelangganya pun kini tidak hanya dari dalam negeri, namun juga dari luar negeri.

“Pemasaran via online shop cukup efektif saya rasakan ! Terlebih untuk kreasi kaos ini belum banyak yang menggelutinya, sehingga peluangnya masih cukup besar,” ungkapnya. Hal serupa juga disampaikan salah satu peserta dari Beehandmade Sandal Flanel yang juga pelaku online shop.

Kaos-3Kuota 20 bahan free yang disediakan penerbit & pemateri saat workshop langsung habis  saat itu juga sesuai dengan kursi yang disediakan pihak TB. Gramedia. Adapun yang partisipasi antara lain SMK Kristen Surakarta jurusan Tata Busana, LPK Indah Surakarta, beberapa pelaku online shop, mahasiswi UMS, UNS, dan para pengunjung TB. Gramedia.       

“Setelah jadi hasilnya sangat cantik. Ini sangat menarik dan bisa memotivasi anak didik saya untuk mengembangkan lebih lanjut. Apalagi hal ini juga belum ada di sekolah. Semoga program ini nanti bisa berlanjut,“ ungkap Ibu Andi Kurnianti, guru jurusan tata Busana dari SMK Kristen Surakarta yang mendampingi 8 siswinya dalam workshop tersebut.

“Kreasi handmade seperti ini hanya dibutuhkan ketekunan dan kreativitas. Karena saya buat 1 model untuk 1 orang, jadi saya harus terus buat model baru, sehingga saya tak khawatir di tiru karena memang sangat exsclusive!,” ungkap Adhisasmita memotivasi para peserta di akhir sesinya. (TP)

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*