Melawak Dapat di Mana-mana

Abnormal

Kegiatan melawak ternyata tidak keramat-keramat amat. Di tengah pasar bisa, di dalam bus kota (yang gak ada penumpangnya) juga bisa. Di dalam kamar mandi, apalagi. Karena melawak bukan keramat, maka siapa aja (yang punya malu sampe yang malu-maluin) boleh-boleh aja. Dengan catatan selama tidak minta bayaran. Tidak maksa orang lain untuk menontonnya.

Jadi kalo pelawak atau grup lawak tidak dapat kesempatan melawak di TV, lalu bunuh diri; sungguh saying itu nyawa dibuang sia-sia. Jelasnya, TV bukan satu-satunya yang membuat grup lawak atau pelawak bisa eksis.

Pendek kata, semua sah. Mau TV kek, radio kek, Koran kek, majalah kek, buku kek, intinya adalah upaya untuk berkomunikasi kepada publiknya. Jadi, bila karya lucunya itu dimaksudkan untuk komunikasi yang lebih luas, maka si krator (pelawak) sudah masuk wilayah pengadilan publik.

Ada yang suka ada yang kagak, ada yang muji, ada yang ngritik, semua itu juga sah. Semua itu perlu diterima dan dicermati sebagai masukan. Sebagai bahan pertimbangan di action berikutnya.

Maka, apa yang ditempuh Wawan Kondo dan David Mboys grup yang menerbitkan buku 100% Abnormal di Indonesia Tera, bahkan ditebari juga dengan gambar-gambar lucu, sungguh upaya lawak yang perlu diacungi jempol karena ia tidak meratapi kurangnya kesempatan tampil di TV atau media elektronik lain. Jadi, menulis buku lucu atau melucu di TV sama-sama kegiatan yang menuntut kreativitas prima dan kesungguhan kerja yang tidak main-main.

Ikutilah filosofi jam dinding, berapapun mahalnya kalo dia tak bisa muter memberi petunjuk waktu kepada pemilik atau masyarakat, artinya sama juga bo’ong. Mending tidak terlalu mahal tapi fungsional. Itu hakikat yang sebenarnya dari kesenian.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*