Yuk! Mulai Menulis!

Oleh : Tri Prasetyo (TP) *

Banyak orang yang ingin jadi penulis, namun tidak juga menulis dengan berbagai alasan: sibuk, belum pede, belum ada ide, ilmunya masih seujung kuku, tidak ada koneksi ke media, dan lain sebagainya. Banyak orang yang tergiur dengan hasil menulis para penulis best seller, namun ia tidak juga segera menulis. Menulis bukanlah bakat. Ini hanya persoalan latihan! Ingat, perjalanan ribuan mil selalu diawali dari satu langah.

So, edisi ketujuh ini tidak akan membahas wacana, namun langkah konkret yang harus dilakukan jika kita memang ingin sebagai penulis. Yuk !  mulai menulis dengan beberapa langkah sederhana sebagai berikut:

Berani Menuangkan Ide, Gagasan, dan Perasaan  dengan Tulisan

Untuk penulis pemula, berani menuangkan ide, gagasan, dan perasaan yang ada di pikiran ke dalam tulisan menjadi jauh lebih penting dilakukan daripada pikirannya terjebak pada teknik menulis dan urusan tata bahasa. Sebab persoalan ini seringkali menjadi kendala dasar para penulis pemula untuk memulai sebuah tulisan. Maka dari itu,  hal dasar yang paling efektif dilakukan adalah dengan praktik langsung menulis dan  terus menulis.   Bairpun begitu, hal ini harus dilakukan secara rutin dan disiplin sampai kita berhasil menemukan pola yang baik dan nyaman dalam menuangkannya ke dalam tulisan.  

Pola yang baik adalah alur dan struktur kalimatnya bisa dipahami oleh pikiran secara runtut dengan logika yang tepat.  Sedangkan pola yang nyaman adalah bisa kita jalani dengan enak dalam proses menulis. Memang, secara prinsip setiap orang pasti memiliki pola yang berbeda-beda.  Maka dari itu, kita harus benar-benar bisa menemukan pola untuk diri kita. Hal ini bisa dilakukan sendiri atau juga belajar dari pola orang lain yang bisa diterapkan ke diri kita dengan latihan dan latihan!

Mulailah Menulis  Dari  Apapun yang Kita Pahami

Isi tulisan tentu tergantung pada seberapa paham penguasaan  dan penghayatan kita terhadap persoalan yang akan kita tulis. Semakin banyak pengalaman dijalani, proses yang dihadapi, buku bacaan yang menjadi refferensi, serta semakin  fokus  pada satu bidang yang ditekuni secara konsisten dalam berbagai hal yang berhubungan dengan persoalan yang akan ditulis, tentu akan mempengaruhi seberapa dalam dan tajamnya kekuatan tulisan tersebut. Artinya jika ditanya akan mulai dari mana? maka mulai berangkatlah dari tema (sederhana)  apa saja yang benar-benar kita pahami dan kita kuasai saja sesuai dengan skill dan kompetensinya.

Jangan Mengedit Tulisan Saat Proses Menulis Berlangsung

Hal yang sering membuat kita mandeg dalam menulis adalah karena tanpa sadar kita melakukan 2 pekerjaan sekaligus, yakni menulis dan mengedit. Sementara proses menulis dan mengedit adalah hal yang berbeda dan sama-sama membutuhkan konsentrasi.

Menulis adalah proses menuangkan ide, gagasan, atau perasaan  yang ada di pikiran dengan tulisan. Sedangkan mengedit adalah memperbaiki naskah /tulisan (dengan memperhatikan terutama dari segi ejaan, diksi, dan struktur kalimat).

So, langkah yang efektif adalah tuangkanlah  semua  yang ada dipikiran dan perasaan kita ke dalam tulisan tanpa melakukan editing terlebih dahulu.  Jika sudah merasa tidak ada yang tertinggal, biarkanlah tulisan tersebut  beberapa saat untuk proses pengendapan. Setelah dirasa cukup,  barulah proses editing dilakukan untuk melihat berbagai hal yang terkait dengan alur, struktur kalimat, diksi dan berbagai hal lainnya.

Teknik Menulis dan Tata Bahasa  Itu Bisa Dipelajari  Siapa Saja

Nah, bagaimana mempelajari teknik menulis dan tata bahasa yang baik dan benar untuk pemula?

Jika mau praktis, kita bisa belajar dari berbagai tulisan setipe (dengan tulisan kita)  yang sudah di publikasikan di media. Sebab dengan belajar langsung dari tulisan yang sudah dipublikasikan, maka kita akan bisa mulai memahami bagaimana  teknik dan tata bahasa ini berbicara langsung di dalam tulisan tersebut. Kenapa tulisan yang sudah dipublikasikan? Sebab bisa dipastikan tulisan tersebut sudah melewati proses editing, sehingga mempermudah kita dalam mengidentifikasinya.

Selain belajar langsung dari tulisan, kita juga perlu mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan hal itu. Misalnya Buku Pintar EYD, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dan referensi lain yang berhubungan, baik offline maupun secara online.

Harus Mulai Berinteraksi dengan Pembaca

Proses menulis memang identik dengan proses individual. Namun jika orientasi menulis kita untuk dipublikasikan, maka mau tidak mau, suka tidak suka, kita sebagai penulis harus mulai berinteraksi dengan pembaca yang disasarnya.  Dalam hal ini, kita bisa mulai dari lingkungan terdekat kita.  Misalnya kita bisa minta tolong kawan akrab kita untuk membaca tulisan kita dan menilainya.

Agar tulisan tidak hilang dan bisa dibaca pembaca, kita bisa arsipkan tulisan tersebut ke dalam Blog. Atau bisa juga kita posting via media sosial  yang bisa berinteraksi secara langsung. Facebook, twitter adalah media sosial yang paling dominan bisa kita gunakan untuk memulai interaksi  dengan pembaca ini. Selain itu, di media sosial ini kita juga bisa masuk atau membuat sendiri grup yang memiliki minat yang sama dengan beberapa kawan yang lain, yakni minat menulis.  Dari situ, selain kita bisa melakukan uji coba langsung agar  tulisan kita untuk dibaca pembaca, juga sekaligus bisa belajar mengkritisi dari tulisan orang lain (memposisiskan sebagai pembaca).

Dari hal sederhana itu kita akan belajar banyak seberapa tulisan kita bisa diterima pembaca, dikritisi pembaca, memberikan respon ke orang lain atas tulisannya, dan berbagai hal serta informasi terkait yang bisa semakin memperkaya pemahaman dan mempertajam tulisan kita. Jika hal itu sudah dicoba, maka langkah selanjutnya tulisan tersebut  bisa tawarkan untuk dibaca media massa atau penerbit.

Proses Menulis adalah Proses Latihan, Bukan Proses yang Instan

Saya percaya tulisan yang baik dan yang bisa diterima oleh pembaca secara luas itu dihasilkan bukan dari proses yang instan.  Namun tetap berasal dari ketekunan proses dan disiplin yang tinggi, kemauan untuk terus belajar dan latihan, kesediaan untuk membuka diri dengan lingkungan dan pembacanya, serta berani melakukan inovasi dan cara-cara kreatif dalam menyiasati segala persoalan yang dihadapainya.

Nah, setelah kita mengetahui banyak hal mulai dari peluang menulis, bidang garapan yang bisa disasar penulis, strategi penulis menembus penerbit, peta pasar buku di Indonesia, pola kerjasama profesional penulis dan penerbit, dan informasi lainnya yang terkait itu, apakah masih kurang lagi alasan kita untuk tidak segera menulis?

Salam Kreatif!

(*) Penulis adalah Pimpinan Redaksi Penerbit Indonesia Tera (www.indonesiatera.com), pecinta buku dan pelaku industri perbukuan sejak tahun 2000 hingga sekarang. Pernah menekuni bidang marketing, promosi, event organizer dll yang semuanya berbasis buku.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

edisi spesial tera