SUTARDJI CALZOUM BACHRI

Lahir di Rengat, Riau, pada 24 Juni 1941. Mulai intens dalam dunia sastra ketika menjadi mahasiswa FISIP Universitas Padjadjaran, Bandung (pertengahan 1960-an).  Bersama beberapa mahasiswa lain, ia aktif sebagai redaktur di Indonesia Ekspress dan Duta Masyarakat, koran ini dikenal sering membuat tulisan-tulisan kreatif dan juga kritis menentang pemerintah.
Kehadirannya di dunia sastra cukup diperhitungkan ketika ia menghadirkan perombakan dan inkonvensionalisasi di bidang puisi (bukan Cuma penulisan, tetapi sekaligus pembacaan).  Perombakan itu ditegaskannya dengan ia mengeluarkan kredo kepenyairan (1973) yang ingin melepaskankata dari beban penyampaian makna.  Ia pun kemudian dikenal sebagai penyair mantra.  Hal ini ditegaskannya dengan diterbitkannya antologi O, Amuk, kapak (Pustaka Sinar Harapan, 1981).
Keterlibatannya di dalampeta perpuisian Indonesia tertulis di dalam sejarah.  Namun, ia sebenarnya tidak membatasi diri berkreasi dalam satu genre penciptaan.  Ia jua menulis cerpen dan sempat dipublikasikannya di berbagai media (barangkali oleh “kebesarannya” di dunia puisi atau sekedar kendala teknis pendokumentasian, cerpen-cerpennya berlalu hampir tanpa dibicarakan orang).
Beberapa aktivitas kesastraan yang pernah diikuti oleh sastrawan ini adalah: International Poetry Reading, Rotterdam (1974)., International Writing Program, Iowa City, USA (Oktober 1974-April 1975), Pertemuan Penyair Dunia, Columbia (1997).
Selain itu, sastrawan yang terkenal sebagai Presiden Penyair ini juga pernah meraih berbagai penghargaan sastra yaitu: SEA Write Award (1979), Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta 1997-1998 (1998), Anugerah Sastra Chairil Anwar Dewan Kesenian Jakarta (1998). ngabdiannya di dalam pengembangan sastra diwujudkannya dengan menjadi redaktur sastra, diantaranya di majalah sastra Horison, selain juga pernah menjadi redaktur puisi di majalah remaja Ceria dan mulai pertengahan 1999 mengasuh rubrik budaya bulanan “Bentara” di harian Kompas.
Menikah pada 10 Nopember 1982 dan hidup berbahagia dengan istri (Mariam Linda) dan seorang anaknya (Mila Seraiwangi).

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*