“Semua Orang Bisa Jadi Penulis Buku”

IMG-20140605-05510c

Oleh : Tri Prasetyo (TP) *

Dalam berbagai kesempatan dan diskusi penulisan, beberapa pertanyaan mendasar yang senantiasa muncul dari para peserta (calon penulis maupun para penulis) pada dasarnya hampir sama.  Misalnya tentang anggapan menulis adalah bakat, adanya anggapan penulis baru susah menembus penerbit, kompetensi penulis yang berbasis praktisi dan akademisi, dan banyak hal lainnya. Mungkin inilah berbagai hal yang selama ini menjadi semacam stigma dalam dunia penulisan buku. Sehingga dunia penulisan buku seakan menjadi ruang yang sulit ditembus. Padahal ruang dan kesempatan untuk jadi penulis buku masih sangat terbuka lebar. Bahkan menurut kami semua orang pada dasarnya punya kesempatan jadi penulis buku. Untuk  itu, di edisi ke-3 ini kami akan bahas tentang berbagai pertanyaan mendasar penulis / calon penulis (X) ke penerbit (Y) tentang berbagai hal tersebut.

X : “Apakah penerbit Anda tidak takut menerbitkan naskah dari para penulis baru?”
Y : “Sama sekali tidak. Sebab tolak ukurnya sebuah naskah bisa kami terbitkan bukan pada  persoalan ia penulis baru atau lama, namun lebih pada kompetensi bidang pada naskah yang dimiliki penulis. Artinya sepanjang si penulis memiliki potensi dan kompetensi bidang yang sesuai dengan kebutuhan pasar pembaca yang disasar penerbit, maka tidak menutup kemungkinan naskahnya bisa diterbitkan.”

X : “Tapi sebuah buku kan salah satunya ditentukan dari nama besar penulis?”
Y : “Tidak semua katagori buku ditentukan hanya dari nama besar penulis. Namun dominasinya tetap dari konten isi buku yang benar-benar bisa memberikan informasi yang dibutuhkan pembaca secara luas. Sebab buku yang baik adalah buku yang bisa menemukan pasar pembacanya secara luas. Memang nama besar juga tetap mengambil peran di situ, tapi sifatnya tidak mutlak. Jadi pendekatannya tetap harus ke kualitas naskah yang harus sesuai dengan kebutuhan pasar pembaca yang disasarnya.”

X : “Bagaimana jika si penulis hanya seorang praktisi yang  tidak memiliki basic akademik?”
Y : “Praktisi yang fokus di bidangnya, mau terus menerus belajar dan berinteraksi dengan lingkungannya secara serius,  pasti akan jauh lebih memahami persoalan riel seluk beluk pasar pembacanya dibandingkan akademisi yang hanya di belakang meja dan tidak berinteraksi dengan lingkungannya. Lagian, kalau si penulis adalah seorang praktisi, pasti akan kami imbangi dengan editor ahli yang basicnya akademisi agar tetap bisa seimbang. Begitu juga sebaliknya.”

X : “Bagaimana jika si praktisi tersebut belum punya bakat menulis ?  Bahkan mungkin belum mempunyai pemahaman menulis yang baik dan benar?”
Y : “Kami percaya jika menulis bukanlah bakat. Menulis ini murni hanya persoalan latihan saja. Begitu juga dengan persoalan tata bahasa, itu bisa dilatih dan dipertajam sepanjang kita mau. Toh materi tersebut pasti pernah kita terima di bangku sekolah maupun kampus. Tapi yang penting  bagi seorang praktisi dalam konteks penulisan buku ini adalah dia harus mampu mengkomunikasikan gagasan, pikiran dan ilmu yang dimiliki ke orang lain, sehingga orang lain tersebut bisa memahaminya dengan baik. Memang, dalam hal ini sangat ditentukan oleh sejauh mana ia mau berproses. Tapi intinya ini hanya persoalan pemahaman bahasa komunikasi saja. Sebab buku pada dasarnya merupakan media informasi dan komunikasi bagi pembaca. Selain itu, dalam teknis proses penyempurnaan tulisannya nanti akan dibantu pula peran editor dan tim redaksi penerbit dalam menggawangi naskah tersebut sebelum sampai ke tangan pembaca.”

X : “Tapi bagaimana jika penulis belum  memahami kebutuhan pasar buku nasional ?”
Y : “Memang, pemahaman terhadap peta pasar buku juga menjadi hal penting bagi penulis, namun itu tidaklah mutlak dan hanya bersifat pendukung. Justru pemahaman terhadap bidang yang dikuasai penulis itu yang bersifat mutlak . Sebab untuk urusan pemahaman terhadap peta pasar buku ini menjadi bagian peran dan fungsi pentingnya penerbit. Artinya, penerbitlah yang cenderung  akan menggali kebutuhan  pasar buku yang sesuai bidang garapannya dengan berbagai analisa yang ada. Biasanya dirumuskan dalam bentuk konsep buku. Setelah itu, kebutuhan pasar pembaca haruslah dipertemukan dengan orang yang memiliki kompetensi di bidang tersebut (baik praktisi atau akademisi) yakni si penulis. Soal teknisnya bisa dilakukan 2 arah. Penulis yang menjajaki penerbit ataupun sebaliknya. Sehingga penerbit ada dasarnya adalah mediator dan fasilitator bagi penulis dan pembaca. Sementara itu, penulis fokusnya justru harus diarahkan bagaimana memaksimalkan potensi dan kompetensinya untuk menghasilkan karya yang berkualitas sesuai dengan bidangnya.”

X : “Lalu apa yang harus dilakukan penulis maupun calon penulis untuk ke sana?”
Y : Kekuatan sebuah buku sangat ditentukan oleh kekuatan isi yang dilatarbelakangi kompetensi si penulis dan si penerbit dalam memahami kebutuhan pembacanya. Sehingga pendekatan kualitas tulisan menjadi sangat utama. Sementara kekuatan dalam percaturannya di pasar buku sangat ditentukan dari seberapa cerdas si penulis dan si penerbit memainkan kreatifitasnya secara optimal di tengah persaingan buku yang ada di pasar.  Sebab, jika sudah bicara pasar maka sebenarnya banyak hal yang berperan di dalamnya. Bukan hanya kekuatan isi, namun juga kekuatan konsep buku, kemasan, jaringan distribusi dan pemasaran (baik toko buku maupun non toko buku), display, kekuatan promosi, jaringan penulis dan lain sebagainya. Intinya para penulis haruslah kompeten dan fokus pada bidangnya. Sebab dari situlah yang menentukan ketajaman ilmu, pengetahuan, skill yang ia miliki untuk menjawab kebutuhan pembacanya. Selain itu, penulis harus  mampu mengkomunikasikan  dengan baik serta kreatif dalam berbagai hal. Sebab kekuatan kreatifitas inilah yang sejatinya menjadi salah satu penentu kebertahanannya karyanya di tengah banyaknya karya di sekelilingnya.

Ya, semua orang pada dasarnya bisa jadi penulis. Jika saja mereka bisa menyadari, menggali, dan mengoptimalkan  potensi serta kompetensi yang ada pada dirinya, lalu mau berbagi informasi ke orang lain apapun motifnya. Semua orang pada dasarnya bisa menjadi penulis dan menerbitkan bukunya, jika ia mempunyai naskah dan tidak ragu-ragu untuk mengirimkannya ke penerbit yang tepat. Kesempatan itu terbuka lebar, namun tidak semua orang bisa memanfaatkan dengan optimal. Percayalah, ini murni hanya persoalan kemauan dan latihan.

Menulis satu paragraf buruk tetap lebih baik bagi penulis, daripada banyak ide dan gagasan menarik namun hilang karena tidak dituangkan dalam tulisan.

Salam Kreatif !  

Tips Kirim Naskah Penulis ke Penerbit :

  1. Kirimlah naskah penulis ke penerbit yang  fokus bidang garapannya benar-benar sesuai dengan kompetensi si penulis.
  2. Perhatikan syarat pengiriman naskah yang ada di tiap-tiap penerbit. Hal ini biasanya bisa dilihat penulis di web penerbit.
  3. Kemaslah naskah penulis semenarik mungkin agar bisa mencuri perhatian redaksi penerbit. Biasanya bentuk naskah yang unik diantara tumpukan naskah yang masuk, paling  bisa mencuri perhatian redaksi.
  4. Infokan ke penerbit jika penulis sudah mengirimkan naskahnya. Hal ini bisa dilakukan penulis via email, kontak redaksi atau yang lainnya agar menjadi perhatian penerbit.
  5. Pastikan  agar naskah penulis sudah benar-benar di terima penerbit. Biasanya penerbit akan memberikan tanda terima naskah (jika langsung) atau menginformasikan ke penulis (jika via email) bahwa naskah sudah diterima penerbit.
  6. Pastikan gambaran waktu dari penerbit untuk memberikan tanggapan kepastian dari pengajuan naskah tersebut dan kontak person yang bisa dihubungi penulis. Jika sudah dapat gambaran waktu, maka  bersabarlah. Jika memang naskahnya bagus,  pasti redaksi akan menghubungi lebih awal dari waktu yang ditentukan. Begitu juga sebaliknya.
  7. Jika sudah melewati batas waktu yang ditentukan penerbit, jangan sungkan-sungkan untuk menanyakan kembali tentang kepastian apakah naskah tersebut bisa diterbitkan atau tidak.
  8. Jika diterima, minta informasi tahapan  proses yang harus dilalui dengan ukuran waktu yang jelas. Mulai dari proses editing naskah hingga cetak dan edar ke toko buku. Selain itu  pastikan bagaimana pola kerjasama antara Penulis dan penerbitnya.
  9. Jika ditolak, minta informasi dan gambaran yang menyebabkan naskah tersebut ditolak. Jika memang harus revisi, maka lakukanlah sampai sesuai dengan standar yang diinginkan penerbit. Jika tidak bisa direvisi karena memang tidak sesuai secara katagori, maka minta gambaran naskah yang bisa diterima atau sedang dicari penerbit untuk bahan informasi pengajuan naskah selanjutnya.

 

(*) Tulisan ini pernah dimuat di rubrik Ruang Buku Majalah Suara Pendidikan Jombang Edisi ke-3 yang edar Mei 2014.
(**) Penulis adalah Redaksi Penerbit Indonesia Tera (www.indonesiatera.com), pecinta buku dan pelaku industri perbukuan sejak tahun 2000 hingga sekarang. Pernah menekuni bidang marketing, promosi, event organizer dll yang semuanya berbasis buku.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*