Redaksi Jogja Berburu Golden Sunrise Bareng 2 Penulisnya

kegiatan-redaksi-1

Oleh : Tri Prasetyo

Jumat (6/3/2015) pukul 18.45 Wib aku membawa tim Redaksi Jogja yang terdiri dari Redaksi Indonesia Tera (Inoer, Tine), Redaksi Gradien (Tikno), Sekretaris Redaksi (Tripujiasih), dan OB (Angga) ini tidak balik ke rumah, namun justru langsung ke Wonosobo. Tujuan kami adalah ke rumah salah seorang penulis buku bahasa Korea di Indonesia Tera, mas Donny Kurniawan dan mbak Anitia Fani. Mereka yang lulusan FIB UGM Jurusan Sastra Korea tahun 2012 ini  mengundang Redaksi Jogja untuk menikmati wisata unggulan daerahnya yang ramai dibicarakan di kalangan nitizen, puncak Sikunir yang berada di komplek Dieng, Wonosobo. Acara ini sekaligus menjadi syukuran buku barunya lho, “Pintar Bahasa Korea Super Lengkap” yang baru saja kelar cetak tanggal 4 Maret 2015 kemarin, hehehehehe……Oya, buku baru ini adalah buku bahasa Korea mereka yang kedua di Indonesia Tera.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam menembus hujan melewati Borobudur, Salaman Magelang, Kepil,dan tembus di Kertek Wonosobo, sampailah kami di rumah mas Donny.  Langsung, suguhan berupa kopi panas dan “tempe kemul” hangat yang juga menjadi salah satu makanan khas Wonosobo ini dia sajikan untuk kami nikmati di tengah dingin yang begitu menggigit. Setelah ngobrol dan bercanda hingga pukul 23.00 Wib, kami putuskan untuk istirahat. Hal ini mengingat besok pukul 02.30 Wib kami harus naik dari Wonosobo menuju puncak Dieng.

kegiatan-redaksi-2

Pukul 02.30 Wib kami sudah siap. Lengkap dengan sepatu, jaket, kaos tangan, dan makanan ringan. Sementara mas Donny ternyata sudah menyiapkan matras, senter, HT, gula-kopi sachet, air, pop mie, dan kamera. 10 menit persiapan, langsung kami diajak menyusuri kelok-keloknya pegunungan Dieng sembari  guyonan lewat kontak HT di dua mobil kami dan mas Donny yang bareng mbak Fani. Lumayan, paling tidak bisa mengurangi dingin, hihihihihi………

Setelah 45 menit perjalanan dengan jalan yang masih lengang, mobil kami akhirnya masuk gerbang komplek Dieng. Langsung aroma belerang pun mulai terasa sembari kami terus menyusuri jalan beraspal yang ada. Tepat setelah melewati Kawah Sikidang, plang petunjuk menuju Sikunir pun sudah mulai nampak. Kami ikuti hingga sampai di pos TPR Sikunir. Bandrol tiket untuk obyek ini adalah Rp.5.000/orang. Dari TPR ini kami masuk ke jalan kampung hingga di parkiran Sikunir yang berada di pinggir danau. Oya, biarpun waktu masih menunjukkan pukul 03.35 Wib, namun di parkiran sudah ada sekitar 18 mobil dan puluhan motor serta pengunjung yang siap-siap naik, lho!

Nah, setelah berdoa dan pemasanan sejenak, kamipun mulai naik menuju puncak Sikunir. Tidak salah mas Donny menyiapkan kami senter. Sebab medan yang dilalui berupa jalan batu dan tanah dengan track menanjak ini memang  belum ada penerangan yang memadai. Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan dengen beberapa kali istirahat untuk mengambil nafas, akhirnya kami sampai di puncak Sikunir. Wow, ternyata di puncak ini sudah ramai dengan pendaki dan pemburu sunrise.

kegiatan-redaksi-3
kegiatan-redaksi-4

Mas Donny yang sudah 3 kali ke sini, mengajak kami untuk mengambil salah satu sisi tempat yang tidak terlalu ramai dan cukup datar untuk menggelar matras. Sholat Subuh, menyalakan kompor untuk menjerang air, mengeluarkan perbekalan, dan senam kecil adalah hal yang kami lakukansembari  kami menunggu golden sunrise yang bakal muncul diantara gunung Sindoro dan Gunung Prau yang tepat di depan kami. Setelah beberapa waktu menunggu, langit yang awalnya gelap mulai terlihat terang. Namun, agaknya kali ini kami kurang beruntung. Sebab matahari terhalang kabut, sehingga golden sunrise tidak kami dapatkan. Biarpun begitu, kami tetap menikmati suasana yang jarang kami dapati ini dengan senang hati.

kegiatan-redaksi-5
kegiatan-redaksi-6

Setelah matahari benar-benar muncul, kami pun mulai menyusuri sisi lain dari puncak Sikunir ini. Sasaran kami tertuju pada sisi Timur. Kata mas Donny, dari situ kami bisa melihat danau dari atas bukit Sikunir. Dan benar, golden sunrise yang gagal kami dapatkan akhirnya tergantikan dengan pemandangan yang cukup menarik dari atas bukit ini. Hamparan danau, petak-petak lahan dan rumah penduduk nampak terhampar di bawah dengan indahnya. Kurang lebih 20 menit kami menikmati pemandangan tersebut, kabut tebal mulai menyelimuti. Buru-buru kami berburu dengan kabut untuk mengambil foto terbaik di sini. Setelah itu, akhirnya kami putuskan untuk kembali ke tempat kami berkumpul dan menikmati hidangan Pop Mie dan Kopi yang sudah tersaji. Setelah puas, kami putuskan untuk turun.

kegiatan-redaksi-7
kegiatan-redaksi-8

Oya, karena Sikunir ini juga masuk dalam Komplek Dieng, maka sayang jika obyek lainnya kami lewatkan. Maka, kami pun langsung meluncur ke obyek ke-2 yaitu Kawah Sikidang. Di sini, kami habiskan untuk menikmati kawah bersama segelas teh hangat, tempe kemul, kentang goreng, dan jamur goreng hasil pertanian di Dieng yang dijajajakan penduduk menuju kawah. Sebenarnya ada satu yang menarik dan belum kami cicipi, yakni telur yang direbus di air kawah yang panas, hehehehe…….

Setelah menikmati kawah dan berfoto bersama, kami lanjutkan menuju obyek ke-3 yaitu Komplek Candi Dieng. Sayang, fisik kami sudah terkuras untuk naik bukit Sikunir, sehingga obyek ini akhirnya kurang maksimal kami nikmati.

kegiatan-redaksi-9
kegiatan-redaksi-10

Tepat pukul 10.00 Wib, kami turun dan dari Komplek Dieng. Untuk mengobati rasa capek yang ada, mandi air hangat adalah pilihan terbaiknya. Maka kami pun diajak menuju Pemandian Air Hangat “Kalianget” yang ada di Wonosobo yang sebelumnya sudah kami lewati ketika berangkat. Kurang lebih 35 menit perjalanan, kami sampai di obyek ke-4 ini. Kurang lebih 1 jam kami manjakan tubuh dengan air hangat alami yang banyak mengandung fosfor ini. Sembari berendam, tanpa sadar kami justru terlibat obrolan dengan mas Donny untuk menggali peluang buku-buku Korea selanjutnya, hehehehehe……..Sementara mbak Fani dengan kawan-kawan redaksi yang cewek lebih memilih untuk menunggu.

kegiatan-redaksi-11

Tepat pukul 14.00 Wib kami meninggalkan Wonosobo. Tentunya setelah makan siang dan diantar mas Donny dan mbak Fani membeli oleh-oleh khas Wonosobo yakni carica dan opak. Ya, kami pulang dengan perasaan gembira. Meskipun badan kami letih, namun perjalanan bersama kawan-kawan Redaksi dan 2 orang penulis kami sungguh menyegarkan pikiran dan membahagiakan. Perjalanan yang bukan hanya sekedar jalan-jalan, namun sekaligus menjadi perjalanan kebersamaan penerbit dengan penulisnya.

Salam Kreatif!

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*