“Pola Kerjasama Profesional Penerbit & Penulis”

Oleh : Tri Prasetyo (TP)

Bagaimana sih pola kerjasama secara profesional antara penulis dan penerbit ketika naskahnya dianggap layak untuk diterbitkan? Hal inilah yang akan menjadi pijakan dasar rubrik Ruang Buku edisi kali ini.

Pada dasarnya kerjasama antara penulis dan penerbit adalah kerjasama profesional, bukan kerjasama yang didasarkan pada hubungan perkawanan atau yang lainnya. Sebab dasar utama sehingga karya si penulis bisa diterbitkan oleh penerbit adalah mengacu pada seberapa besar naskah tersebut memiliki kekuatan dan ketajaman dalam membidik pasar yang menjadi target penerbit dan sesuai dengan standar yang telah di tetapkannya. Profesional yang dimaksud adalah kedua belah pihak terikat pada kerjasama, di mana masing-masing pihak mempunyai hak dan kewajiban yang jelas, proporsional, terukur, saling menguntungkan dan terikat secara hukum. Di sinilah seorang penulis harus cerdas dan jeli dalam memahami pola kerjasama yang ada.

Secara umum terdapat dua pola dalam kerjasama naskah antara penulis dan penerbit, yakni pola beli putus/jual beli naskah dan pola royalti. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Beli Putus/Jual Beli Naskah

Naskah yang ditawarkan penulis ke penerbit dihargai dalam perhitungan nominal tertentu dengan dasar kesepakatan kedua belah pihak. Polanya sama seperti jual beli barang biasa, hanya saja ini berupa naskah buku. Adapun keuntungan pola kerjasama ini bagi penulis adalah :

  1. Penulis mendapatkan hasilnya di awal.
  2. Pembayaran dilakukan dari penerbit ke penulis begitu kesepakatan harga terjadi.

Sedangkan kerugian pola kerjasama ini bagi penulis adalah :

  1. Hak cipta penulis sudah dibeli penerbit, sehingga penerbit berhak untuk mengalihkan hak dan izin menerbitkan naskah dari penulis ke pihak lain atau badan lainnya secara otomatis. Biarpun begitu, nama yang tertulis tetap nama penulis.
  2. Meskipun bukunya bisa diserap pasar pembaca dan dicetak ulang berkali-kali oleh penerbit, namun tidak akan berpengaruh pada hasil yang diperoleh penulis, , sebab transaksi naskah sudah terjadi di awal tadi.

Dalam konteks jangka pendek, pola kerjasama ini memang kelihatannya menguntungkan bagi penulis dan penerbit karena sifatnya lebih praktis. Namun dalam jangka panjang sebenarnya pasti merugikan salah satu pihak dan kurang proporsional. Biasanya pola ini dipakai oleh penerbit dalam kasus naskah khusus. Selain itu dipakai oleh penerbit yang belum siap melakukan pengelolaan manajamen yang berorientasi ke jangka panjang.

Royalti

Dalam pola kerjasama royalti, naskah dihargai dalam bentuk prosentase dari harga jual per-eksemplar buku yang terjual. Biasanya nilai royalti dihitung dari prosentase harga jual (brutto) buku dengan kisaran prosentase 7-10% . Hal ini tergantung pada jenis naskah, apakah  memerlukan ilustrasi, foto, dan lain sebagainya. Untuk pembayarannya diperhitungkan dari total jumlah eksemplar buku yang terjual dalam periode tertentu. Misalnya per-3 bulan atau per-6 bulan.

Keuntungannya pola ini bagi penulis:

  1. Hak cipta tetap ada di tangan penulis. Penerbit tidak berhak untuk mengalihkan izin, hak,  dan wewenang untuk menerbitkan naskah tersebut tanpa kesepakatan dengan penulis sepertihalnya pada pola beli putus.
  2. Mendapatkan hasil secara terus-menerus tanpa batas ketika bukunya masih diterbitkan dan beredar di pasar.  Bahkan hasil royaltinya dapat diwariskan jika penulis kebetulan meninggal dunia dan buku tersebut masih beredar di pasar.
  3. Merangsang penulis untuk ikut partisipasi dalam promosi bukunya.
  4. Hubungan kerjasama dan komunikasi antara penerbit dan penulis akan selalu terjalin. Bahkan jika hasil penjualan buku pertamanya kurang begitu bagus, kedua belah pihak dapat melakukan evaluasi. Hal inipun berlaku jika bukunya bisa diterima oleh pasar, maka akan menjadi rangsangan & motivasi tersendiri bagi penulis untuk menciptakan karya-karya terbaiknya yang sesuai  dengan kebutuhkan pasar pembaca yang menjadi target penerbit.

Adapun kerugian pola kerjasama ini bagi penulis cukup kecil, yakni penulis hanya  harus bersabar untuk memetik hasilnya sesuai dengan tenggang waktu yang disepakati dengan penerbit.

Bagi penulis dan penerbit ini adalah pola ideal dan proporsional.  Biarpun begitu, pola ini biasanya dilakukan oleh penerbit-penerbit yang telah memiliki sistem administrasi dan menajemen yang baik. Sebab untuk menyajikan data penjualan per-judul buku secara riil dari seluruh toko buku di Indonesia yang menjadi mitra penerbit/distributor secara rutin dan kontinue bukanlah pekerjaan sederhana.  

Mekanisme Perjanjian Penerbitan Buku

Beberapa poin penting yang tercatum dalam konteks kesepakatan kerjasama tertulis antara penulis dan penerbit secara umum adalah sebagai berikut :

1. Prinsip Dasar & Kesepakatan
Prinsip dasar kerjasama adalah penulis sebagai pemilik dan pemegang hak cipta atas naskah ingin menjadikannya dalam bentuk buku yang dipublikasikan dan bisa dijual secara komersil.  Sedangkan penerbit adalah perusahaan penerbitan yang fokus utama usahanya menyunting naskah, memperbanyak, dan memasarkan buku hingga sampai ke tangan pembaca/konsumen.  Kedua belah pihak (penulis dan penerbit) inilah yang kemudian bersepakat untuk melakukan kerjasama, dan masing-masing terikat hak dan kewajiban secara hukum.

2. Hak Cipta
Penulis adalah pemilik dan pemegang hak cipta atas naskah, sehingga penulis bertanggungjawab sepenuhnya pada isi beserta informasi terkait yang ada dalam naskah buku, dan hal lain yang menyangkut isi naskah tersebut. Termasuk jika terdapat kutipan baik di isi, judul, foto, ilustrasi halaman cover, dan kelengkapan lainnya  menjadi tanggungjawab penulis dan tidak boleh melebihi batas yang ditentukan Undang-Undang Hak Cipta.

3. Editorial
Penerbit berhak untuk melakukan proses penyuntingan sesuai dengan isi yang ada, menyempurnakan, menyunting judul dan isi naskah berdasar susunan tata bahasa yang baik dan lazim yang berlaku dalam penerbitan buku, serta pertimbangan pasar yang ada. Dalam konteks ini tetap dilakukan dengan sepengetahuan dan persetujuan penulis.  
Selain itu format buku, tata letak isi, desain sampul kewenangan ada di pihak penerbit. Meskipun begitu, penulis dapat memberikan usul dan saran.

4. Penggandaan Buku
Di sini memuat oplah cetak buku pertama, hak yang diperoleh penulis atas cetakan pertama, hingga proses buku cetak ulang. Untuk biaya penggandaan ini biasanya menjadi tanggung jawab penerbit.

5. Pemasaran dan Promosi Buku
Jangkauan wilayah pemasaran dan distribusi buku, strategi, dan harga jual buku, merupakan hak sepenuhnya penerbit. Dalam hal ini penulis tetap bisa memberikan saran dan mendapatkan informasi.  Namun keputusan final tetap ada pada penerbit.Untuk promosi buku yang melibatkan penulis biasanya diatur juga dalam poin ini.

6. Royalti dan Mekanisme Pembayaran
Meliputi besaran royalti, mekanisme informasi atas laporan penjualan, dan mekanisme pembayaran atas penjualan dalam periode yang ditetapkan.

7. Ahli Waris
Ahli waris ini berlaku apabila pihak penulis meninggal dunia dan bukunya masih diterbitkan oleh penerbit dan masih beredar di pasar.

8. Jangka Waktu Perjanjian
Untuk jangka waktu perjanjian ini biasanya berakhir ketika buku yang diterbitkan sudah benar-benar dinyatakan habis terjual dan penerbit yang bersangkutan tidak bersedia menerbitkan kembali.  Jika si penulis bermaksud menarik naskahnya, akan ada jeda waktu tertentu terhitung sejak buku dinyatakan habis terjual. Dan jika memang sudah ada kesepakatan untuk naskahnya ditarik, maka naskah yang diserahkan adalah naskah awal ketika ketika diserahkan dan belum disunting oleh penerbit.

Demikian pola kerjasama profesional yang secara umum berlaku antara penulis dan penerbit dalam kerjasama penerbitan naskah buku.  Semua kerjasama tersebut  pada dasarnya bisa dilakukan, tergantung kesepakatan kedua belah pihak. Namun yang menjadi penting adalah penulis sudah harus dengan cerdas mengetahui kelebihan dan kelemahannya kedua pola tersebut. Sehingga ia sudah punya pertimbangan matang pada saat  memutuskan dengan  penerbit mana ia akan kerjasama !

Salam Kreatif !

(*) Tulisan ini pernah di muat di Majalah Suara Pendidikan Jombang EdisiXXIV/ TH. II/ AGUSTUS 2014.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

edisi spesial tera