PELATIHAN FUNGSI EDITOR DI ERA DIGITAL

pelatihan-editor-2

Buku boleh saja berubah wujud: dari kertas ke digital.

Namun, yang dicari orang bukan wujudnya, melainkan esensinya.

Itulah informasi.”

 

Kalimat yang diucapkan Pak Hikmat Kurnia, Ketua IKAPI DKI Jakarta dalam pembukaan “Pelatihan Fungsi Editor di Era Digital” di atas sejatinya telah menjadi hal penting dan kontekstual dalam menjawab kegelisahan kalangan perbukuan (baik penerbit, penulis, maupun pembaca) ketika menyikapi era digital yang kini kian akrab dengan keseharian kita. Kegelisahan apakah buku sebagai lembaran kertas (printbook) masih dibutuhkan? Padahal jika mengacu ke konteks kalimat pak Hikmat di atas, buku sebagai lembaran kertas hanya wujudnya saja. Sebab, yang dicari orang dari sebuah buku adalah isinya, bukan wujudnya. Isinya tersebut yang dinamakan informasi. Sehingga, sepanjang penerbit dan penulis tetap fokus mengolah produk yang bernama informasi, masuknya era digital seharusnya bukan lagi sebagai ancaman, melainkan justru sebagai peluang. Sebab, jika sebelumnya informasi hanya disajikan dan bentuk lembaran kertas yang disebut buku, kini bisa juga disajikan dalam bentuk digital (Ebook). Ya, harus disadari bahwa setiap jaman memiliki cara yang berbeda dalam penyebaran informasi yang ditulis. Perubahan itu tidak bisa dihindari dan hanya butuh disikapi dengan cerdas. Apalagi industri penerbitan ini adalah sebuah industri yang basisnya adalah kreatifitas.

Nah, di edisi kali ini Redaksi akan berbagi informasi dengan kalian seputar pelaksanaan “Pelatihan Fungsi Editor di Era Digital” yang berlangsung 2 hari di Hotel Max One, Rawamangun, Jakarta Timur, tanggal 26-27 Oktober 2016, pukul 09.00-17.00 Wib. Sampai hari H, peserta pelatihan sebanyak 52 orang. Peserta sebagian besar adalah Editor dan Redaksi dari berbagai penerbit, antara lain: Agromedia, Visi, Media, Transmedia, Gagas Media, Kawan Pustaka, Qultum Media, C-Media, Penebar Swadaya, Elex Media, BIP, GPU, LIPI Press, GIP, Pustaka Al Kautzar, Pustaka Imam Syafii, BPK Gunung Mulia (Jakarta). Tak hanya Penerbit dari Jakarta, Indonesia Tera & Gradien Mediatama (Jogja), Ruang Kata (Bandung), Tiga Serangkai (Solo) juga ikut mengirimkan peserta dalam acara tersebut.

Narasumbernya terdiri dari berbagai media, yaitu Indah Julianti Sibarani (Blogger), Bayu Ramdani (Manajer Redaksi Penerbit Mizan), Jeffry (Direktur Gagas Media Grup), dan Arif (Direktur Penerbit Republika).

Yuk, ikuti gambaran pelatihannya bareng mas Tri Prasetyo sebagai Pemimpin Redaksi Indonesia Tera yang langsung mengikuti kegiatan di sana.

Rabu, 26 Oktober 2016

Sesi pertama berlangsung pukul 09.30-12.00 Wib. Narasumbernya adalah Bu Indah Julianti Sibarani yang merupakan seorang Blogger (Emak-emak Blogger). Tema yang diusung “Kreatif Dengan Sosial Media”.

Menurutnya, hal yang paling penting dalam memainkan sosial media (sosmed) untuk branding adalah memahami konten apa yang akan diinfokan dan bisa membangun interaksi dengan pengikut/fans. Kemudian harus memahami platform sosmed terlebih dahulu, baik dari Istagram, Twitter, Facebook, Youtube, Pinterest, maupun yang lainnya. Hal ini untuk mengetahui ukuran kekuatan branding yang paling kuat di sosial media tersebut. Setelah 2 point tersebut oke, konsistensi postingan menjadi salah satu kunci yang sangat penting. Memanfaatkan sosmed untuk branding ini bisa dilakukan secara personal maupun lembaga.

Editor sebagai engine sebuah Penerbit, saat ini memang harus mampu memanfaatkan sosmed ini untuk media interaksi (dengan penulis dan pembaca) sekaligus bentuk branding profesinya. Fungsinya untuk memudahkan proses identifikasi bahwa dirinya sebagai seorang editor penerbitan. Materinya bisa digali dari berbagai sisi yang terkait di dalamnya. Dengan begitu, akan lebih memudahkan pula identifikasi bagi penulis yang ingin bekerjasama dengannya. Ujung-ujungnya, pasokan naskah akan semakin mudah didapatkan dan hubungan dengan penulis dan pembaca akan semakin cair. Sebab penulis dan pembaca dalam kesehariannya juga sudah tidak bisa lepas dari sosial media. Terlebih lagi para penerbit yang menyasar segmen anak muda, kemampuan mengoptimalkan sosmed ini sesuai dengan perkembangan segmen yang disasarnya ini sudah menjadi paket kebutuhan yang melekat di dalamnya.

Sesi kedua berlangsung pukul 13.00-17.00 Wib. Menghadirkan mas Bayu Ramdani (Manajer Redaksi Penerbit Mizan). Judul materinya cukup menarik untuk para editor, “Berburu Naskah Netizen”.

Jika dulu sumber naskah penerbit hanya dari naskah penulis yang dikirim ke penerbit, kini sumber naskah justru bisa juga digali dari para netizen. Buku My Stupid Boss, Kambing Jantan, Si Juki, The Naked Traveler, Dilan, dan Dear Nathan menjadi contoh buku yang coba disajikannya di awal. Kebetulan buku tersebut merupakan beberapa jenis buku laris di toko buku secara nasional. Menurut kalian, apa persamaan buku tersebut? Yup, pertama buku-buku tersebut sempat viral di sosmed (twitter, facebook, dll) maupun media pengirim pesan (BBM, WA, dll). Kedua, penulis buku-buku tersebut punya akun sosial media dan aktif. Ketiga, penulis di buku tersebut juga memiliki landing page karya, baik berupa blog maupun fan page.

Sebagai salah satu sumber naskah, para netizen cukup potensial untuk digali hingga saat ini. Adapun keuntungan mengadopsi naskah netizen antara lain : karya sudah dikenal, penulis aktif di sosmed (sehingga promosi low budget), pasar relatif lebih mudah dipetakan, dan komunitas secara tidak langsung sudah terbentuk. Makanya, editor sebuah penerbitan di masa kini menurutnya harus akrab dengan gawai, memiliki semua akun medsos (terutama yang sedang popular), mau sediakan waktu untuk blogwalking, mengamati yang sedang jadi trending topic, dan mengikuti semua akun seleb sosmed. Apakah jaminan laris? Belum tentu. Buku Laris adalah misteri. Orang mengira penerbitan buku adalah industri, padahal sebuah arena pertaruhan.

Nah, setelah semua terpetakan, bagaimana strategi mendapatkan naskah dari netizen? Kontak kreatornya dan temui. Lalu, kenali karakter kreatornya sebelum bertemu. Jangan lupa, siapkan konsep yang matang (bahkan jika perlu sudah dibuatkan dummy). Saat bertemu, imbagi ngobrol dengan diskusi serius. Jika gagal, masuk dengan pintu lain. Adapun cara lain yang bisa dilakukan untuk mendapatkan naskah dari netizen adalah dengan mengadakan sayembara menulis bareng penulis beken di akun sosmednya, atau sayembara menulis bareng komunitas netizen.

Wah, paparan mas Dani ini sangat menarik untuk para editor penerbit, ya. Tapi sesungguhnya materi ini juga sangat menarik bagi para penulis, lho. Kenapa? Jika netizen menjadi salah satu sumber naskah potensial bagi si penerbit, berarti bagi penulis yang sudah menjadikan sosial media sebagai salah satu aktualisasi karya sekaligus branding bagi dirinya agar lebih cepat dikenal oleh penerbit dan pembacanya. Jika kalian para penulis atau calon penulis belum memanfaatkan itu, mulailah dari sekarang, sebab kesempatan sudah ada di depan mata kalian.

palatihan-editor-1

Kamis, 27 Oktober 2016

Jika di hari pertama para narasumberlah yang prensentasi di hadapan para peserta, kini di hari kedua sesi pertama para pesertalah yang harus melakukan presentasi. Diawali dengan dibaginya para peserta menjadi 4 kelompk. Tiap kelompok diberikan 1 materi untuk menganalisa karya Ayat-Ayat Cinta (Habiburrahman El Shirazy) & Sabtu Bersama Bapak (Aditya Mulya). Kebetulan 2 judul buku tersebut memiliki persamaan yaitu buku dan filmnya Best Seller. Nah, tiap kelompok harus menganalisa apa yang menjadi faktor 2 karya tersebut bisa Best Seller baik buku maupun filmnya dari berbagai aspek yang ada.

Di sesi ini, mas Tri Prasetyo mewakili Redaksi Indonesia Tera ditunjuklah sebagai ketua kelompoknya. Didampingi mbak Three dari Qultum Media sebagai wakil ketua dan mbak Pipit dari Visi Media sebagai sekretarisnya. Sementara anggota mereka terdiri dari editor penerbit Gagas Media, Agromedia, C-Media, B-Media, Penebar Swadaya, dan BPK Gunung Mulia. Jika pada sesi presentasi tiap kelompok hanya bisa diwakili oleh 2 orang, kelompok ini cukup berbeda. Mereka maju dengan 3 orang. Alasannya, mereka bukan hanya akan presentasi tentang Aya-Ayat Cinta, akan tetapi mereka akan melebur ke dalam tokohnya. Sehingga dalam perkenalan mas Tri Prasetyo sebagai Fahri, mbak Three sebagai Aisyah, dan mbak Pipit sebagai Maria. Maka, sesi prensentasi paling akhir mereka pun akhirnya gerrrrr…dan bisa merebut perhatian para peserta.

Pada sesi kedua yang berlangsung pukul 14.00-17.00 wib, hadir mas Jeffry dari Gagas Media Grup dan Mas Arif dari Penerbit Republika. Mereka dihadirkan dalam satu panggung talkshow dengan tema “Rahasia Buku Best Seller”. Wah, menarik ya!

Mas Jeffry membukanya sesi awal tersebut dengan menceritakan proses promo buku Best Seller Gagas Media, yaitu Koala Kumal (Raditya Dika). Di mana proses rancangan promonya sudah dimulai sejak buku tersebut belum terbit dan beredar. Saluran promonya pun mengoptimalkan semua lini yang ada baik online maupun offline. Program roadshow di berbagai kota menjadi salah kegiatan offline buku ini.

Menurutnya, di era digital ini ada hal yang berubah dari pembaca, yaitu media yang dibacanya dan cara membaca informasinya. Untuk media baca buku, selain prinbook dan ebook, kini sudah berkembang Audio Book, Bookmate, Wattpad, dan lain sebagainya. Begitu juga cara membaca informasinya, berubah seiring dengan perkembangan sosial media saat ini. Medianya, kontennya, hingga gaya di tiap sosial media yang ada juga ikut mempengaruhi perubahan yang ada di pembaca. Hal ini, menuntut strategi yang berbeda di bandingkan era sebelumnya. Jika sosial media saat ini mau digunakan sebagai salah satu saluran informasi buku baru untuk pembaca, maka bahasa yang disajikan dalam bahasa promo harus lebih fasih, tidak bisa terlalu upselling, dan mengarah ke media visual.

Perubahan media baca dan media informasi yang ada inilah yang harus senantiasa disikapi oleh Penerbit dengan strategi yang tepat. Sehingga, atas buku yang muncul senantiasa bisa menyesuaikan dengan pergerakan pembacanya. Malakukan edukasi ke penulis yang belum fokus di sosial media juga menjadi tantangan penerbit saat ini. Tentang bagaimana pentingnya memetakan pembaca, cara postingan yang menjual, bahkan hingga melakukan pengelolaan akun penulis oleh penerbit.

Mas Arif dari Penerbit Republika juga menyinggung proses promo buku Ayat-Ayat Cinta yang sebelumnya juga dibahas di sesi persentasi peserta. Namun yang menarik, ia justru banyak menjabarkan strategi promosi buku terbarunya Tere Liye yaitu Tentang Kamu yang menjadi salah satu buku Andalan Penerbit Republika ini. Khusus buku ini, ia mengatakan bahwa konten cerita yang dibuat di dalamnya di sini justru diawali dengan melakukan survei ke pembacanya. Misalnya tentang siapa nama tokohnya, spot tempat mana saja yang harus muncul di cerita, tema apa saja yang ada di dalamnya, hingga quote pilihan yang disajikan di dalamnya. Seetelah hasil survey di dapat, barulah proses penulisan dilakukan oleh Tere Liye.

Dalam hal optimalisasi promo, sepertihalnya Gagas Media semua lini coba dioptimalkan dengan schedule yang tertata dengan rapi. Mulai dari penentuan platform media promonya, strategi sosial medianya, hingga ke eventnya menjadi satu rangkaian yang sudah dipersiapkan sejak awal. Tak heran, jika oplah pertama untuk buku ini sebanyak 40.000 eksp. Dan baru 2 hari beredar sudah cetak ulang. Wow! Selain proses di atas, mas Arif juga menyajikan data menarik tentang pertumbuhan pengguna internet di Indonesia. Perkembangan tiap platform sosial media juga menjadi hal yang ia sajikan di dalamnya. Paling tidak, ini menjadi potret yang menarik bagi penerbit untuk menentukan langkah dalam strategi promosi, maupun peluang lain yang ada di dalamnya.

Sesi mas Arif dan mas Jeffry juga ini menjadi penutup untuk semua rangkaian kegiatan selama 2 hari tersebut. Menarik, karena semua peserta bisa mendapatkan banyak manfaat yang sangat kontekstual untuk menjawab tantangan yang ada. Selain itu, pertemuan dengan para editor penerbit nasional dari berbagai kota ini menjadi momentum penyemangat yang luar biasa.

Salam Kreatif! (TP)

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

edisi spesial tera