Jangan Takut Jadi Penulis Pemula!

Oleh : Tri Prasetyo*

 

“Mas, saya ini penulis masih pemula. Sementara sudah banyak nama penulis besar dalam dunia penulisan buku. Bagaimana sebaiknya saya?” tanya seorang peserta dalam diskusi penulisan di Rumah Baca Gang Masjid (RBGM) Jombang pada tanggal 8 Januari 2015 kemarin.

Pertanyaan ini sebenarnya bukan pertanyaan baru dalam berbagai forum yang pernah saya isi. Bahkan, pernah pula saya singgung dalam rubrik Ruang Buku ini di edisi “Semua Orang Bisa Menulis Buku”. Namun, kali ini saya ingin membahas secara lebih khusus lagi. Hal ini, berpijak dari pengalaman mengamati faktor kecenderungan pembaca dalam menentukan buku yang dibelinya, mengamati proses dinamika lahirnya penulis-penulis muda berbakat yang bermodalkan semangat dan kemauan keras untuk belajar, serta bagaimana sebenarnya penerbit menempatkan posisi penulis dalam kancah dunia perbukuan saat ini.

Nama Besar Penulis dan Proses yang Dilalui
Nama besar penulis memang memiliki peran yang cukup signifikan bagi pembaca dalam menentukan buku yang dipilihnya. Selain itu, menjadi pertimbangan penerbit dalam menjalin kerjasama dengan si penulis. Tapi apakah hal tersebut berlaku untuk semua kategori buku? Ternyata tidak! Hanya di beberapa kategori saja, lho! Diantaranya kategori buku motivasi, biografi, fiksi. Biarpun begitu, hal ini tetap tidak menutup kemungkinan bagi penulis pemula menyasar 3 kategori tersebut. Sebab penerbit yang bermain di kategori ini juga cukup banyak dengan kompetisi yang sengit.

Sementara itu, di pasar buku paling tidak ada 25 kategori buku dengan berbagai tema yang bisa disasar penulis selain 3 kategori di atas. Seperti kategori buku penunjang pelajaran, pendidikan, bahasa, buku anak, agama, sejarah, hukum, psikologi, kesehatan, pertanian, parenting & keluarga, dll. Kategori buku inilah yang sebenarnya bisa digali lebih jauh oleh penulis pemula.

Nah, hal menarik yang bisa dipelajari oleh penulis pemula dari beberapa nama besar para penulis adalah proses kreatifnya, spirit dan semangat dalam mereka dalam berproses hingga mencapai keberhasilan seperti sekarang ini. Sebab, apa yang mereka raih tentu bukanlah kebetulan semata, melainkan ada sekian banyak proses yang telah dijalani. Seperti tetap fokus dan konsisten dalam berkarya, tidak takut melakukan terobosan dan pengembangan baru dalam setiap karyanya, selalu membangun interaksi dengan pembaca, hingga akhirnya publik luas bisa mengetahui nama dan karyanya karena santernya berbagai media yang memberitakannya. Membaca karya mereka, juga bisa memperkaya wawasan dan menjadi rujukan yang berharga bagi para penulis pemula. Dari situ, tidak tertutup kemungkinan para penulis pemula bisa sejajar bahkan melampui karya mereka.

Nama Penulis, Isi Buku, dan Pertimbangan Pembaca
Idealnya, pertimbangan pembaca dalam memilih buku yang dibelinya secara prioritas akan melihat dari (1)nama penulis, (2)nama penerbit, (3)kemasan -desain cover, tipografi, ilustrasi-, (4)isi buku, dan (5)harga buku. Namun pada kenyataannya, pendekatan utama bagi pembaca dalam melihat sebuah buku ternyata dominasinya justru ditentukan oleh kekuatan ISI dan HARGA buku. Nama penulis, nama penerbit, dan kemasan buku menjadi penentu setelahnya.

Hal tersebut beberapa kali pula saya uji (baik ngobrol secara langsung dengan pengunjung, maupun dengan menyebarkan kuisioner), baik di pameran buku yang pernah saya selenggarakan di berbagai daerah di Pulau Jawa-Sumatera selama hampir 5 tahun (2006-2012), maupun ketika berada di toko buku dalam berbagai kesempatan hingga saat ini. Ternyata, sebagian besar pertimbangan mereka dalam memilih buku yang dibelinya lebih merujuk pada tema dan isi buku, serta harganya. Ketika ditanya siapa nama penulisnya ? kebanyakan mereka tidak tahu. Apalagi ketika ditanya siapa nama penerbitnya ? lebih banyak yang geleng kepala. Kesimpulan saya, tema/isi buku dan harga buku masih menjadi pertimbangan utama bagi pembaca.

Hal serupa pernah pula dikaji oleh sebuah toko buku di Jogja dan pernah disampaikan dalam forum diskusi tahun 2012, tentang seberapa besar pengaruh nama penulis, nama penerbit, kemasan, isi, maupun harga buku terhadap kecenderungan pembaca dalam membeli buku. Hasilnya, dominasi pembaca lebih melihat dari aspek isi buku, baru kemudian ke kemasan, harga, lalu nama penulis, dan terakhir nama penerbitnya.

Nah, jika dominasi pembaca dalam melihat buku tetap utamanya pada isi buku, maka semboyan “Content is The King” bisa menjadi acuan utama bagi penulis pemula. Artinya hal utama yang harus dilakukan penulis adalah menciptakan karya yang sebaik-baiknya sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Lalu diikuti dengan menggali informasi tema apakah yang benar-benar dibutuhkan oleh pembaca yang sesuai dengan kekuatan si penulis. Di siniliah proses analisa awal diperlukan oleh penulis jika ingin karyanya bisa diterima pembaca dengan baik. Sepanjang si penulis bisa menghadirkan isi buku yang sesuai dengan kebutuhan pembacanya, maka sebenarnya tidak ada lagi batasan dalam konteks penulis pemula dan penulis senior dalam hal kesempatannya untuk diterbitkan hingga karyanya bisa dinikmati pembaca!

Persoalannya, seberapa paham si penulis bisa mengetahui target pembaca yang disasarnya secara detail? Sayangnya, tidak banyak penulis pemula yang memahami betul soal ini, sehingga tulisannya cenderung jauh dari pembaca dan baru menjawab persoalan yang ada dalam dirinya, bukan menjawab secara tepat yang menjadi kebutuhan pembaca. Ingat, karya yang baik adalah karya yang bisa menemukan pembacanya secara tepat ! Dan untuk menuju ke sana, tetap diperlukan proses yang harus dilakoni oleh penulis.

Pertimbangan Nama Penulis Bagi Penerbit
Untuk penerbit yang menggarap bidang kategori yang memiliki sensitifitas terhadap nama penulis, nama besar penulis akan sangat dipertimbangkan. Bahkan, biasanya mereka akan berusaha untuk memburu penulis nomer 1 atau nomer 2 di kategori tersebut.
Namun, bagaimana penerbit saat ini dalam melihat posisi penulis pemula ini secara umum ? Dan bagaimana pendekatan yang menjadi dasar utamanya ?

Pertama, pendekatan utama penerbit bukan semata-mata dari nama besar penulisnya, melainkan justru pada “karya” (naskah) yang dihasilkan oleh si penulis tersebut. Artinya jika karyanya mampu menjawab kebutuhan pembaca seperti yang menjadi bidikan penerbit, maka sangat terbuka sekali karyanya bisa diterbitkan biarpun si penulis masih tergolong penulis pemula dalam kancah perbukuan yang ada. Begitu juga sebaliknya, biarpun karya tersebut dari penulis senior, namun jika tidak bisa menjawab kebutuhan pembaca yang disasar penerbit, maka karya tersebut tetap tidak akan bisa diterbitkan. Pertimbangan karya tetap menjadi pertimbangan utama di sini.

Kedua, kompetensi bidang yang dimiliki si calon penulis juga bisa menjadi modal bagi penerbit untuk menjajaki kerjasama dengan calon penulisnya. Kompetensi ini tidak lepas dari persoalan skill, hobby, latarbelakang akademik, dan lain sebagainya. Sepanjang kompetensi bidang si penulis sama dengan kompetensi bidang garapan si penerbit, hal ini sudah menjadi modal awal. Tahap selanjutnya, barulah penerbit akan menggali kompetensi si penulis tersebut lebih detail yang disesuaikan dengan tema bidang dan dibutuhkan oleh pembaca yang disasarnya. Jika dalam proses ini ada titik temu, maka peluang karyanya bisa diterbitkan akan sangat terbuka. Bahkan, dalam hal ini penerbit cenderung menempatkan diri untuk menjadi kawan diskusi bagi penulis, mau melakukan pendampingan dan supervisi dalam proses penyelesaian naskahnya hingga menjadi buku yang bisa diterima pasar pembaca. Biarpun begitu, calon penulis ini harus tetap menjalani proses latihan menulis hingga menghasilkan sebuah naskah. Sebab modal dasar seorang penulis pemula bisa bekerjasama dengan penerbit tetap sama seperti penulis yang sudah memiliki nama besar, yaitu harus sudah dalam bentuk naskah.

Nah, penerbit saat ini sudah sangat terbuka dengan penulis-penulis pemula. Bahkan mereka cenderung mau menjemput bola, memberikan informasi secara terbuka, dan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi penulis pemula untuk bisa berkarya. Mereka tidak lagi takut untuk mengorbitkan penulis-penulis baru sepanjang karyanya memang bisa memenuhi kebutuhan pembacanya secara tepat.

Ini hanya persoalan pengelolaan peluang dan kesempatan serta kesadaran untuk tumbuh kembang bersama saja. Sehingga tetap diperlukan sinergi dan kerjasama bagi kedua belah dalam mengoptimalkan setiap potensi yang ada di masing-masing pihak. Komunikasi terbuka menjadi kata kunci dalam hal ini. Sebab, proses keberhasilan keduanya hanya bergantung pada beberapa hal sbb:

  1. Seberapa besar penulis dan penerbit mau fokus pada bidang yang digelutinya?
  2. Seberapa besar penulis dan penerbit mau konsisten untuk terus berkarya?
  3. Seberapa mau penulis dan penerbit untuk mendekatkan diri kepada pembaca yang disasarnya?
  4. Seberapa cerdas penulis dan penerbit untuk menggali informasi dan bersinergi untuk menghasilkan sebuah karya yang layak dan bermutu bagi pembaca?

Tak perlu takut untuk jadi penulis pemula, sebab kini informasi sudah sangat terbuka dengan lebarnya. Tak perlu khawatir untuk terus berkarya, karena keberhasilan salah satunya hanya ditentukan dari seberapa besar kita punya tekad dan semangat untuk terus belajar dan berlatih saja !

Salam Kreatif !

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

edisi spesial tera