DAVID MBOYS

Lahir 24 SeptemGerrr 1985 di sebuah kota kecil yang konon katanya ditemukan oleh Thomas Alfa Edison, Kota bersejarah itu bernama Lampu¬ng. David menurut David sendiri: Kedua orang tuaku sepakat untuk memberi nama bayi mungil (muka tengil) itu David Rianto, yang artinya David itu anak dan Rianto itu Sholeh. Jadi David Rianto berarti Anaknya Pak Sholeh (padahal bapakku namanya Pak Nazir..). David kecil hanya numpang lahir di Lampung, kemudian Hiruk pikuk Perang Dunia ke-2 memaksaku merantau ke kota Plesetan joke ja. Meski terbilang singkat, kenangan di kota Gajah(Gaul Ajah) ini telah begitu melekat (Memang Lebih Dekat). Apalagi setiap hari orang tuaku selalu bernyanyi: “Gajahlah hati jangan kau nodai!!” Untuk itu setiap bertindak aku selalu menggunakan hati (harus dihayati). Sampai saat buku ini ditulis aku masih tinggai di sebuah rumah “elit” (elek dan sempit) di kampung Notoprajan Joke jakarta. Kira kira 2 km dari pusat jajan dan olahraga Pasar Kembang. Sebagai anak semata wayang, aku tidak punya kakak, apalagi adek. Tapi beruntung aku punya banyak sekali saudara “sepaha” (dalam bahasa jawa dibaca: sepupu), jadi aku tak pernah merasa kesepian.

Karir pendidikanku cukup lumayan lancar meski TK pernah DO (karena sering mbolos demi nonton film kartun maklum, namanya juga anak-anak). Kemudian dilanjutkan berguru di SD Muhammadiyah Purwodiningratan 1, SMPN 8, SMAN 8, dan sekarang sedang berjuang merampungkan skripsi di jurusan Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM. Alhamdulilah dengan usah keras dan doa dari banyak orang, skripsiku sudah sampai pada BAB NIAT! Karena kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi maka hobiku adalah main kelerang (sedikit ga nyambung seh).

Aku gemar sekali yang namanya fotografi dan nonton film. Semua film kugemari, termasuk film BIRU alias Bikinan Rudi Surjawo.  Pertama mengenal dunia panggung ketika SMA. Secara tidak sengaja aku bergabung dengan ekskul teater (namanya TEATER 10). Awalnya hanya coba¬-coba , tapi kemudian aku ingat pesan ibuku, “ikut teater kok coba coba!”, makanya iku jadi ketagihan. Saking semangatnya aku punya prinsip jangan sampai sekolah mengganggu teater!”. Di Teater 10 inilah aku kenal dengan WAWAN. Seorang kakak kelas yang super edaaan. Dialah orang yang menggemblongku habis-habisan hingga menjadi orang yang aneh bin ajaib seperti saat ini. Padahal tadinya aku termasuk anak yang alim, pendiam dan pemalu tapi dia dan kawan-kawan telah menulari virus (vikiran rusak) kegilaannya kepadaku. Berbekal semuanya itulah aku dan kedua temanku (Bayu&Weka) iseng-iseng mengikuti Audisi Pelawak TPI 2 (API2), kami bertiga membuat sebuah grup yang diberinama MBOYS, singkatan dari Memang Banyolan Orang Yogya dan sekitarnya (asal dipas-pasin aja). Grup Mboys sendiri sebenernya terbentuk hanya 2 hari sebelum audisi. Namun tanpa dinyana-nyana Mboys lolos mewakili Jogja untuk bertarung di Jakarta. Pengalaman di Jakarta mengajarkan bahwa ternyata industri entertaitment itu tidak semudah seperti yang kubayangkan. Ternyata ibu kota memang lebih kejam dari pada ibu budi.

Sepeninggal API2 Mboys masih tetap eksis berkarya dan terus mengibarkan panji-panji per-eMCi-an dan perlawakan di jagad Ngayogyokarto Hadiningrat. Selain bersama Wawan dan kawan-kawan aku juga mendirikan sebuah Laboraturium Seni yang bernama La Giente’s. Di sinilah kami mencoba mewujudkan ide dan karya dalam bentuk pementasan yang tentunya tidak lepas dari balutan seni komedi. Karena aku dan Wawan memiliki kesamaan visi, misi dan sama-sama suka nasi goreng, maka kami berdua sepakat membentuk sebuah tim kreatif yang diberi nama Wanda Creativisia. Semula kami ingin menamainya Srimulat, tapi ternyata nama tersebut sudah dipakai oleh senior-senior kami jadi kami memilih untuk menamainya Wanda Creativisia. Kebiasaan kami berdua dalam menulis dan memproduksi “bahan” lawakan menggugah kami untuk mewujudkannya dalam bentuk buku, seperti yang Anda pegang saat ini.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*