Buku Sebagai Media Informasi untuk Pembaca

2014_teraisi

 

Oleh: Tri Prasetyo (TP)*

Buku dalam industri penerbitan masa kini mempunyai peran sebagai media informasi bagi pembaca. Sehingga selama manusia di dunia ini masih membutuhkan informasi, maka sejatinya industri penerbitan dan semua stockholder-nya termasuk penulis akan tetap eksis sampai kapanpun. Bahkan ketika beberapa tahun yang lalu banyak pihak dalam industri perbukuan meramalkan buku (print book) akan tergeser oleh e-book karena masuknya era digital, hal ini tidak akan mengurangi eksistensinya. Sebab print book ataupun e-book hanya merupakan medianya saja. Namun proses dan tujuannya tetap sama dalam proses industri penerbitan seperti yang selama ini dijalani. Bahkan satu sisi era digital justru memberikan sisi positif dalam hal mempermudah akses informasi yang bisa digali penerbit, penulis, dan pembaca untuk berbagai hal yang mendukung industri ini.

Selain itu, buku dalam industri penerbitan masa kini senantiasa ditempatkan dalam 2 konteks, yakni buku sebagai karya intelektual dan karya industri. Konteks buku sebagai sebagai karya intelektual adalah informasi yang diberikan ke pembaca harus tetap didasarkan pada kompetensi penulis dan kompetensi penerbit itu sendiri. Kompetensi penulis tidak hanya didasarkan pada kompetensi akademik saja, namun juga skill (keterampilan), hobi, dan berbagai hal yang mereka kuasai. Sementara kompetensi penerbit di dasarkan pada kemampuan engine redaksi dalam menguasai bidang yang menjadi garapannya yang sesuai dengan kebutuhan informasi pembaca yang disasarnya. Sementara konteks buku sebagai karya industri adalah maka penerbit pasti akan menerbitkan buku yang bisa diterima pasar pembaca secara luas (nasional). Hal ini, akan dilakukannya dengan melakukan serangkaian analisa, perumusan konsep buku, strategi promosi maupun hal yang lainnya agar buku tersebut benar-benar bisa diterima pasar pembaca secara tepat dan sesuai dengan target yang diharapkan penerbit dan penulis.

Karena buku sebagai media informasi yang sangat luas (jika dalam konteks bahasan edisi sebelumnya telah disinggung adanya 108 kategori dan 108 sub kategori di pasar buku nasional yang bisa disasar penulis), maka penerbit pun kemudian menfokuskan arah penerbitannya pada keahlian bidang yang sesuai dengan kompetensi dan garis kebijakan perusahaannya. Misalnya untuk Penerbit Indonesia Tera, fokus utama terbesar pada buku non fiksi kategori Bahasa-Kamus, dan fokus pendukungnya pada kategori Penunjang pelajaran, Keterampilan, Kewanitaan, dan Hobi. Sehingga untuk kategori lain di luar bidang tersebut secara prinsip porsinya naskah yang diterbitkan menjadi sangat kecil.

Hal ini harus disadari oleh para calon penulis dan para penulis yang ingin bekerjasama dengan penerbit. Sehingga perpaduan kompetensi bidang si penulis tetap harus sinkron dengan kompetensi bidang garapan yang menjadi fokus dan spesialisasi penerbit yang ingin disasarnya.

Beberapa garis besar yang harus dipertimbangan penulis ketika naskahnya ingin diterbitkan oleh penerbit adalah:

1. Ketepatan untuk menggali kebutuhan pembaca.
Jika pada awalnya dalam proses menulis lebih cenderung pada pertimbangan pribadi, maka ketika orientasinya untuk diterbitkan di penerbit, pertimbangan kebutuhan pembaca yang disasarnya adalah mutlak adanya. Hal yang pertama yang harus disadari dari awal adalah untuk siapa dan untuk apa tulisan itu dibuat dan ingin diterbitkan. Memang ini butuh proses latihan yang tidak gampang. Akan tetapi, jika si penulis memang fokus pada bidang yang digelutinya secara konsisten, dan mau menggali informasi kebutuhan pembaca secara lebih jauh dan serius, maka ketepatan dalam memberikan informasi yang benar-benar dibutuhkan pembaca pastilah menjadi mudah.

2. Kecepatan dalam merespon momentum.
Dalam penerbit, momentum menjadi salah satu faktor yang cukup menentukan dalam pertempuran buku di pasar pembaca. Dan untuk memahaminya hanya diperlukan kemauan untuk menggali berbagai informasi, termasuk dari penerbit, pemasaran maupun toko buku. Dari beberapa kasus, seringkali ditemukan naskah buku yang bagus dari penulis, namun momentum masuknya ke penerbit yang kurang tepat (telat) hanya gara-gara kekurangsinkronan pada pemahaman ini.

3. Ketepatan menjalin kerjasama dengan penerbit.
Pada konteks ini, temukan kompetensi dan keahlian bidang yang dikuasai penulis, lalu sinergikan dengan penerbit yang sesuai dengan bidang garapannya. Bahkan untuk mempertajam poin 1 dan 2, bisa juga dimulai dari menggali informasi dari penerbit terlebih dahulu. Kuncinya hanya dibutuhkan kemauan penulis untuk membuka akses dengan penerbit. Dalam hal ini, peluang dan kesempatan itu sangat terbuka lebar. Sebab penerbit saat ini sangat lebih terbuka dalam berbagai hal, dan tidak lagi terbatas jarak dan waktu. Informasi dan komunikasi bisa dijalin secara langsung via kontak kantor, kontak person redaksi, media sosial penerbit, atau bahkan ngobrol langsung face to face dengan redaksi di mana saja sesuai dengan kesepakatan.

Nah, sesuai dengan pepatah bahwa ìBuku adalah jendela duniaî, maka bisa dipastikan bahwa buku memberikan manfaat besar, yaitu sebagai media informasi. Dengan buku, kita akan mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan, agama, sosial, politik, budaya, bahasa, dan sebagainya. Semakin banyak kita membaca buku semakin banyak pula informasi yang bisa kita dapatkan. Semakin banyak kita menggali informasi dari dunia buku, maka semakin besar pula peluang yang bisa disasar para penulis dan calon penulis untuk memberikan karya-karya terbaiknya bagi penerbit dan pembaca.

Salam Kreatif!

(*) Penulis adalah Pimpinan Redaksi Penerbit Indonesia Tera (www.indonesiatera.com), pecinta buku dan pelaku industri perbukuan sejak tahun 2000 hingga sekarang. Pernah menekuni bidang marketing, promosi, event organizer, dll yang semuanya berbasis buku.


 

Tips mengetahui penerbit yang baik dan kredible:
1. Perhatikan konsistensi penerbit dalam menerbitkan bukunya.
Biasanya bisa juga dilihat langsung di Toko Buku dengan jaringan Nasional atau website penerbit, serta media sosial yang dimilikinya. Penerbit yang baik, pasti akan secara rutin menerbitkan bukunya dan secara aktif mempublikasikannya di media yang dimilikinya.

2. Lihatlah alamat penerbitnya di halaman buku (biasanya di halaman ke-2 / halaman Katalog Dalam Terbitan).
Penerbit yang bertanggung jawab pasti akan mencantumkan alamat dan kontaknya secara lengkap, bukan hanya alamat email saja, atau bahkan tanpa alamat yang jelas. Sebab jika ada hal-hal yang mungin kurang sesuai di buku tersebut, secara prinsip pembaca dapat mengkritisi secara langsung ke penerbit dan penulisnya.

3. Cari tahu oplah untuk setiap buku barunya dan jangkauan distribusinya.
Sebab, penerbit yang baik pasti akan cetak dengan oplah untuk pemenuhan pasar buku secara nasional (biasanya minimal 3000 eksp) dan didistribusikan di Toko Buku jaringan Nasional.

4. Tanyakan pola kerja sama naskah yang ditawarkan dengan penulis.
Penerbit yang baik pasti akan memposisikan penulis sebagai mitra sejajar dengan pola kerjasama yang saling menguntungkan. Biasanya, biaya investasi cetak, distribusinya 100% menjadi tanggung jawab penerbit, sedangkan penulis investasi di karya dalam bentuk naskah buku. Hasilnya, penulis akan mendapatkan bagi hasil dalam bentuk royalti. Dan semua kesepakatan tertuang di Surat Pernjajian Penerbitan Buku yang mengikat kedua belah secara hukum.

Redaksi Penerbit Indonesia Tera menerima naskah dan kerjasama dalam berbagai program pengembangan berbasis pendidikan dan keterampilan. Informasi bisa diakses di web: www.indonesiatera.com | FB: Indonesia Tera Publishing | Twitter: @indonesiatera | Email: Indonesiatera@gmail.com | Telepon: 0274-382779.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

edisi spesial tera