|
Ada yang bilang nih, kalo cinta nggak bisa lepas dari jiwa muda. Bukan berarti kita kaum muda mau memonopoli cinta, seratus persen nggak lah! Namun, bila dipikir-pikir, kaum muda memang secara alami (artinya nggak direkayasa, asli dari sononya) selalu mengalami fase perkenalan dengan cinta sebagai bagian dari perkembangan kejiwaan dan kepribadiannya.
Tapi, bila cinta cuma dipendam sendiri, ya sama aja bo’ong dong. Kakek bilang sih, kalo naksir harus mikir, Kalo cinta ya disampaikan saja. Soalnya, selain sudah menanggung rindu sendirian saja, memendam kasih tak sampai juga makan ati, seperti kata pepatah “bagai pungguk merindukan bulan.” Manyun setahun juga nggak ‘menyelesaikan masalah kan? Apalagi bercinta di era milenium ketiga (biar kesannya futuristik nih) amat beda dengan cinta gaya jadul, cinta anak muda sekarang sih bukan cinta Siti Nurbaya, frends, udah nggak pake dicomblangin, dan semuanya harus serba fresh, serba spontan, nggak pake lama untuk nembak si dia. Anak muda sekarang harus segera tahu, apakah cintanya terbalas segera. (Sehingga bisa cepat cari sasaran lain, and nembak si dia lagi. Gitu kan?) Cara kilat paling jitu untuk nembak dan pedekate (ini singkatan dari pendekatan, masa sih nggak tahu?) adalah dengan mengirim pesan cinta lewat sms, istilah yang sok keren adalah “curhat digital.” Tapi, banyak juga yang nggak pede, kalo nulis sms yang serba pendek, jadi nggak romantis lagi, nggak seperti nulis surat cinta ala Siti nurbaya dulu, yang mendayu-dayu kalo merayu. Buku “Love is Blue” karya Sabina berisi ratusan pesan cinta yang romantis abis. Dari yang mesra, atau yang mencoba bijak dalam cinta, sampai yang lagi duka berderai air mata, semua ada dan semuanya tersedia dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris). Kalo nggaya sama si dia, pilih sms dalam bahasa Inggris, atau pilih terjemahannya yang puitis abis. Kalo ada begitu banyak inspirasi untuk menyatakan isi hati pada idaman hati, kenapa masih nunggu lagi? Biarlah buku terbitan IndonesiaTera ini menjadi saksi bagi sejarah perjalanan cintamu. |